Langsung ke konten utama

Cerita Persiapan Perjalanan Ke Taiwan di Masa Pandemi

 

Gambar 1. Sumber foto dari Tripzilla.id

Perjalanan ke Taiwan bisa dikatakan sebagai perjalanan beban atas program fellowship yang harus saya tunaikan. Mengapa saya menyebutnya beban? Karena di tahun 2020 terdapat bencana social yang melanda negara-negara di dunia berupa Corona Virus Diseas (Covid-19) yang berasal dari Wuhan, China. Tanpa terkecuali Taiwan. Maka saat keluarga besar kami mengetahui terkait rencana keberangkatan penulis ke Taiwan responnya pasti sangat mengkhawatirkan dong, sehingga beberapa ada yang sempat menyarankan untuk tidak berangkat. Dan sempat menjadi alasan penulis memperlambat pengurusan berkas tersebut, dengan harapan kondisi akan membaik.

Namun, saat kondisi di Indonesia tidak kunjung membaik, tetapi di Taiwan malah semakin membaik karena penanganannya yang tepat. Dan beberapa info yang masuk ke penulis, bahwa di Taiwan justru lebih aman daripada di Indonesia, kurang dari 30% potensi kita bertemu dengan OTG (orang tanpa gejala) covid.  Info tersebut menjadi butiran semangat baru saya untuk mulai melakukan persiapan perjalanan ke Taiwan. Selain support system suami,anak dan keluarga. Alasan berikutnya adalah alasan akademik berupa kewajiban untuk memenuhi fellowship untuk nama baik institusi menjadi alasan utama perjalanan ke Taiwan.

Jadwal Perjalanan awal diagendakan bulan Januari, Namun karena masih terikat dengan jadwal perkulihan regular di Universitas Airlangga, saya melakukan reschedule jadwal keberangkatan saya menjadi Juli. Qodarullah karena pandemi covid-19, saya diminta menunggu informasi dari MOFA untuk bisa masuk Taiwan. Sekitar Akhir Agustus melalui TETO Surabaya, saya dikabari bahwa saya sudah bisa memulai proses pengurusan visa, artinya beberapa waktu lagi saya diharuskan berangkat.

Mulailah saya melengkapi satu persatu persyaratan untuk pengajuan visa ke Taiwan. Beberapa berkas yang sudah ready segera saya kumpulkan supaya mudah untuk proses check listnya.

Adapun persyaratan pengajuan Visa ke Taiwan sebagai berikut ;

1.       Ijazah dan transkrip nilai terakhir

2.       Passpor Asli dan Fotocopy

3.       Kartu Kekularga (KITAS)

4.       2 (dua) lembar Pasfoto Terbaru berwarna dengan latar belakang putih ukuran 4x6 (3 bulan terakhir)

5.       Bukti Keuangan (Fotocopy buku tabungan 3 bulan terakhir)

6.       Bukti penerimaan dari sekolah

Untuk konteks berkas ini, karena penulis datang untuk memenuhi undangan MOFA melakukan riset, maka bukti penerimaan dari MOFA dan Kampus Host saya yang saya lampirkan.

7.       Medical Checkup, dan melampirkan bukti vaksin

8.       Formulir ajuan visa ke TETO, diakses dan diisi secara online ; https://visawebapp.boca.gov.tw

Dari beberapa persyaratan berkas di atas, bagi saya pengalaman yang sangat berarti adalah saat pengumpulan berkas medical checkup. Mengapa? Karena medical check up untuk ke Taiwan berbeda dari Madical Check up biasanya. Selain perkara laboratorium yang tidak semua mendapatkan ijin mengeluarkan medical check up oleh TETO. Namun berkaitan juga dengan form 1 atau 2 yang menjadi landasan diharuskan melakukan tes fisik apa saja.

Saat proses pengurusan medical checkup ini bukan di sembarang klinik Kesehatan, melainkan klinik yang secara resmi diijinkan oleh pihak TETO untuk melakukan medical checkup bagi calon visitor Taiwan. Karena saya domisili Sidoarjo dan kerja di Surabaya, maka saya tes Kesehatan di Citra Medical Center yang bertempat di Ketintang.

Saat melakukan registering di klinik, kita harus menyampaikan tujuan keberangkatan ke Taiwan, karena akan ada form berbeda yakni untuk medical checkup Tenaga Kerja dan Visitor atau pelajar. Karena saya ke Taiwan untuk urusan feloowship maka masuk pada kategori visitor/pelajar.

Adapun serangkaian tes yang dilakukan saat medical checkup meliputi :

-          Cek Laboratoriam : urine, feces (tinja), pengambilan darah.

-          Cek Kesehatan oleh dokter umum termasuk wawancara terkait Riwayat Kesehatan dan data lainnya yg terdapat dalam form Kesehatan.

-          Foto Rontgen di area bagian depan.

-          Setelah hasil keluar, maka akan dilakukan tindak lanjut dengan pemberian vaksin MMR. Jadi Taiwan masih mengantisipasi warga Indonesia yang datang ke sana membawa virus campak dan rubella. Vaksin ini diberikan jika diketahui kalua dalam tubuh calon visitor tersebut tidak terdapat antibody rubella maupun campak. Jika sudah ada, maka tidak perlu dilakukan vaksinisasi.

Hasil dari medical chechkup harus memenuhi standard untuk pengajuan visa, maka saat ada gejala yang terdeteksi saat medical checkup maka segera lakukan Tindakan. Setelah itu, jika hasil lab kita menunjukkan bahwa di dalam tubuh kita minus antibody campak dan rubella (MMR) maka akan dilakukan penambahan Tindakan berupa suntik vaksi MMR dengan tambahan biaya. Vaksin ini baik untuk seorang perempuan yang tidak sedang menyusui anak, tidak sedang hamil dan tidak akan hamil kurang lebih 1 tahun ke depan serta tidak memiliki gejala-gejala Kesehatan yang bertolakbelakang dengan proses injeksi vaksin tersebut.

Oiya, Dalam proses pengurusan medical checkup ini dibutuhkan biaya yang tidak murah, sekitar 950 ribu rupiah. Maka perlu dipersiapkan administrasi keuangannya juga. Lalu, apakah selesai saat hasil medical checkup kita sdh terbit? Belum pemirsah, pasca surat medical checkup kita selesa, Langkah selanjutnya yang harus dilaksanakan adalah proses legalisasi surat medical checkup tersebut ke notaris. Artinya, masih dibutuhkan tambahan biaya legislasi hasil medical Checkup ke notaris kisaran 250ribu ke atas (tergantung harga dari notaris).

Fakta di lapangan, ternyata tidak semua notaris familiar dengan permintaan TETO untuk legalitas medical Checkup, jadi kita perlu mencari notaris yang berbadan hukum resmi dan menyampaikan secara jelas maksud kita. Pengalaman penulis juga ke notaris yang belum familiar dengan hal tersebut, sehingga penulis mencari info terkait kebutuhan legalitas medical checkup tersebut. Yang kita butuhkan adalah watermark ke berkas yang asli dan legalisisr untuk berkas fotocopynya. Seperti apa bentuknya ? Berikut saya lampirkan contohnya :

 

Gambar 2. watermark madical checkup dari Notaris untuk setiap halaman di berkas asli

Jika sudah selesai dari Notaris. Maka segera melakukan isian pengajuan Visa Online, jika berkehendak mengurus visa di hari itu juga, serta pastikan berkasnya sudah komplit. Karena ternyata isian yang ada dalam visa online sangat buanyak dan njlimet, jadi perlu menyiapkan waktu khusus untuk mengisi isian visa online secara khusyuk. Ajuan visa online bisa klik di laman https://visawebapp.boca.gov.tw .

Pengajuan visa oleh TETO Surabaya terjadwal dari senin-Jum;at mulai pukul 08.00 – 12.00 WIB. Sedangkan untuk pengambilan visa dijadwalkan Senin-Juma’at juga pada jam 13.00-16.00 WIB. Sehingga bagi calon pengaju visa, mohon untuk datang sesuai jadwalnya. Semua berkas jangan samapai ada yang tertinggal.

Apakah selesai sampai di situ?Belum lagi pemirsa. Setelah mendapatkan visa, maka bersegeralah konsul ke salah satu agen travel perjalanan ke Taiwan terkait kesediaan tiket, harga dan persyaratan yang diperlukan. Pada tahapan ini ada di postingan saya selanjutnya. Semoga Bermanfaat.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tawaran Solusi Sistem ekonomi Islam terhadap Perekonomian Indonesia yang berwajah Ekonomi Kerakyatan

Tawaran Solusi Sistem ekonomi Islam terhadap Perekonomian Indonesia yang berwajah Ekonomi Kerakyatan Arin Setiyowati [1] Latar Belakang Masalah D ata BPS ( Maret, 201 9 ) menunjukkan bahwa tahun 2019 penduduk miskin di Indonesia mencapai 25,14 juta orang ( 9.41 %). Pengukuran kemiskinan yang dilakukan oleh BPS tersebut menggunakan konsep kemampuan memenuhi kebutuhan dasar ( basic needs approach ). Penurunan jumlah penduduk miskin dari 2018-2019 menunjukkan bahwa secara absolut tingkat kemiskinan di Indonesia masih sangat besar dan upaya mengatasinya berjalan lambat. Maka diharapkan pemerintah memperkuat ekonomi rakyat secara adil, melalui pendekatan kebijakan yang tidak memihak kepada rakyat harus diubah menjadi kebijakan yang pro-rakyat, atau setidaknya yang perlu dikembangkan adalah kebijakan yang not against atau netral terhadap ekonomi rakyat agar terciptanya keadilan distribusi. Beberapa kebijakan yang dicanangkan oleh pemerintah dalam rangka menciptakan keadilan dist...

Menikmati Lautan Bunga Musim Winter di Taiwan (Xinshe Sea of The Flower)

    Pada ahad (29 November 2020), saya beserta teman-teman kampus di Asia University melakukan perjalanan cukup Panjang untuk bisa menikmati lautan bunga musim Winter di daerah Fengyuan. Mengapa redaksi yang saya ambil ‘cukup panjang’? karena nyatanya untuk menuju ke lokasi yang manis itu membutuhkan effort dengan 3 transportasi. Kami tinggal di lokasi Liufeng Road, daerah sekitar kampus Asia University, secara geografis maka posisi kami berada di tengah dari Taichung. Sedangkan lokasi Xinshe of the Flower berada di hampir sisi barat Taichung. Untuk menuju ke lokasi tersebut, kami menuju ke Taichung station untuk naik kereta menuju Fengyuan dengan harga tiket kereta sekitar 20 NTd per kepala, atau setara dengan Rp 10.000,- di Indonesia untuk tiket KA lokal. Sekitar 20-30 menit perjalanan menuju Fengyuan station, kami terpaksa berdiri, karena penumpang full, dan rerata memang menuju ke Fengyuan station. Karena dalam rombongan kami ada duo krucils cewek, maka sebisa mung...

Feminisme

Gelombang Feminisme Feminisme yang diartikan sebagai aliran, gerakan perempuan dalam rangka menuntut atas tidakan penindasan, eksploitasi dan pemiskinan (marginal), penomorduaan (subordinasi) atas laki-laki (baik secara system, budaya patriarkhi, kultur, maupun kebijakan) terhadap perempuan. Dalam belajar sejarah, terkadang proses pemilahan, pemisahan dan pengelompokan menjadi cara untuk mempermudah dalam memahami bahan yang dipelajari. Begitu halnya dengan aliran feminisme ini, sebenarnya benang merah hanya terletak pada apa yang melatarbelakangi aliran itu muncul, kondisi setempat, ragam/ corak aliran maupun gerakannya dan sumbangan untuk perubahan-perubahan yang dirasakan sampai hari ini. Dan inilah yang akhirnya memaksa untuk dipisahkannya suatu gerakan yang seharusnya bisa saja terjadi bersamaan, dan beda persepsi pula jika start tumpunya pun beda. Hal inilah yang membuat sedikit bingung penulis dalam membaca beragam potongan artikel dan buku terkait kelahiran dan pengg...